Mandiri Capital Indonesia

Mandiri Capital Bocorkan Pendanaan Khusus untuk Startup Lingkungan

Mandiri Capital Indonesia (MCI) menggandeng startup binaannya Rekosistem untuk menghadirkan fasilitas setor sampah daur ulang (Waste Station) di Menara Mandiri. Ini merupakan langkah perusahaan untuk mendukung bisnis berkelanjutan dengan prinsip Environment, Social, Governance (ESG).

“Kami membutuhkan satu portofolio atau satu kerja sama yang mendukung ESG Bank Mandiri, kebetulan Rekosistem yang kami saring ya, jadi bukan asal kami undang, kami coba lihat ini menarik dan coba kami kolaborasikan,” kata Ronald dalam peresmian MCI Waste Station kolaborasi MCI dan Rekosistem di Menara Mandiri, Jakarta Rabu (21/2/2024).

Ronald mengatakan kerja sama tersebut diharapkan tidak hanya berhenti di sini saja. Ke depan, MCI akan terus mendukung Rekosistem terutama untuk mencapai profitabilitasnya.

Pihaknya ingin startup yang berada di bawah binaan Mandiri Capital tidak hanya menarik dalam hal ide, tetapi juga mendukung ekosistem bisnis perusahaan induk. Khusus untuk startup yang bergerak di bidang lingkungan, MCI telah menyiapkan pendanaan khusus yang memang menjadi fokus utama perusahaan pada tahun ini.

“Kami memang ingin investasi kami nantinya baik melalui investasi langsung maupun dana ventura-ventura lain. MCI sudah memiliki dana kelolaan yang fokusnya pada climate, namanya global climate tech fund. Ini memang portofolionya untuk membantu net zero emission,” tuturnya.

Adapun melalui Waste Station, tenant di Menara Mandiri maupun masyarakat umum dapat menyetorkan sampah anorganik seperti plastik, kaleng, kertas, kardus dan kaca. Mereka akan mendapatkan poin yang dapat ditukar menjadi voucher belanja dan saldo dompet digital.

Rekosistem nantinya akan mengolah sampah terkumpul untuk didaur ulang dan digunakan kembali. Penghematan emisi karbon ini kemudian akan turut serta mendorong ketercapaian misi Net Zero Emission (NZE) Bank Mandiri secara operasional pada 2030.

Pengelolaan sampah anorganik masih menjadi pekerjaan rumah bagi Indonesia. Menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, volume timbulan sampah anorganik menduduki proporsi kedua terbesar yakni 34,5% setelah sampah makanan 40,7%.

Ini berarti ada lebih dari 7,3 juta ton sampah nasional yang belum terkelola secara efektif. Padahal, sampah anorganik termasuk jenis sampah yang tidak mudah terurai dan tidak mudah membusuk, sehingga jumlahnya akan terus menumpuk dari tahun ke tahun.

Namun, apabila sedari awal sampah anorganik dipilah dan dipisahkan dari jenis sampah yang lain, maka sampah anorganik dapat didaur ulang dan dimanfaatkan kembali. Inilah alasan Rekosistem mendukung masyarakat untuk terbiasa melakukan “Pilah dan Pilih” agar sampah anorganik bisa diselamatkan dari TPA.

Sumber: https://keuangan.kontan.co.id/news/btn-fund-targetkan-investasi-di-beberapa-sektor

Ditulis oleh admin

Bagikan ke: