Mandiri Capital Buka Peluang Modali Fintech Syariah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perusahaan modal ventura, Mandiri Capital Indonesia (MCI) membuka peluang untuk mendanai fintech-fintech syariah yang potensial. Meski CEO Mandiri Capital Indonesia, Eddi Danusaputro menyampaikan mereka tidak spesifik mengklasifikasikan fintech syariah maupun non-syariah.

“Kalau ketemu yang cocok, kami akan jajaki, mungkin belum ketemu saja (fintech syariah),” katanya kepada Republika.co.id, Senin (20/1).

Mandiri Capital telah mendanai 13 perusahaan teknologi digital per Desember 2019. Diantaranya adalah Amartha, Investree, Moka, Privyid, LinkAja, Halofina, Yokka!, cashlez, Mekari, PTEN, DAM.

Beberapa fintech diantaranya punya produk syariah, yakni Investree dan Amartha yang punya opini dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) untuk skema pembiayaannya.

Secara umum, Eddi menyampaikan MCI mendanai fintech yang memiliki kolaborasi dengan Mandiri Group. Selain itu, fintech dengan rekam jejak transaksi bagus, valuasi masuk akal dan lainnya. MCI juga mencari berdasarkan sektor industri.

“Kami saat ini mencari beberapa startup baru, antara lain di sektor remitansi dan insurtech,” katanya.

Pada 2020, MCI akan menyalurkan permodalan untuk perusahaan digital sebesar Rp 1 triliun. Sejak berdiri pada 2016, MCI telah menyalurkan modal sekitar Rp 980 miliar pada 13 startup tersebut di atas.

Oleh : Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Nidia Zuraya

Link

Royke Tumilaar Beberkan Rencana Ekspansi Bank Mandiri di 2020

Jakarta, CNBC Indonesia– PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi satu-satunya bank asal Indonesia yang berkeinginan ekspansi keluar negeri. Bank ini mengincar peluang ke sejumlah negara ASEAN serta Korea Selatan.

Bagaimana rencana ekspansi tersebut? Simak wawancara eksklusif CNBC Indonesia bersama dengan Direktur Utama Bank Mandiri Royke Tumilaar.

Bagaimana dengan update ekspansi Bank Mandiri?
Kami terus dan tidak berhenti mempelajari melakukan pertumbuhan. Bukan cuma Filipina, kami juga kan melihat akan memperluas di beberapa negara yang lainnya.

Kami mencari bentuk bisnis paling pas supaya bisa memberikan nilai tambah pada bank mandiri, bisa akuisisi bank, multifinance, ataupun JV. Kami terbuka segala model dan opportunity di regional, mungkin di Korea atau negara lain yang berpotensi untuk peningkatan sinergi.

Kenapa memilih pasar mancanegara, sementara di Indonesia sedang ramai mengakuisisi bank kecil dan membuat bank digital?
Dari dua hal itu kami bukan berarti cuma lihat regional kami lihat ke dalam juga. Ada target bank perusahaan yang jadi pertimbangan. Di Indonesia semua bank masuk ke sini segmen digital, semua bank lihat prospek yang baik di segmen digital. Kami kan sangat besar eksposure di korporasi. dan perusahaan yang menuju ekspansi global kami bantu gimana bisnisnya ini tetap dengan kita, sekaligus mengembangkan bisnis di negara yang ada potensinya.

Rencana ekspansi bisnis ini mengarah cashflow positif dalam berapa tahun ke depan?
Sedapat mungkin berpikir tidak sepanjang 10 tahun, mungkin dalam 5 tahun seharusnya sudah bisa menghasilkan. Kami tidak mau terlalu banyak capital yang dikeluarkan, karena opportunity dalam negeri kan ada juga. Besaran jangka waktu target bisnis. Kami memang serius memperdalam semua kemungkinan, bisa jadi kami akan coba dengan JV, artinya kan bukan berarti harus kuasai semua tetapi lihat kemampuan kami juga.

Sejauh ini sudah berapa mitra yang sudah negosiasi? Negara mana yang paling kuat untuk ekspansi luar negeri?
Yang jadi target kami di regional Asean plus Korea, ini target untuk ekspansi kita. Pembicaraan sejauh ini masih dalam kajian internal. Kami belum mau kontak dengan siapapun sebelum yakin bisa memberikan nilai tambah pada Bank Mandiri.

Bagaimana dengan review kinerja Bank Mandiri?
Dengan situasi ekonomi agak melambat kami juga melakukan ekspansi di segmen aman seperti di korporasi dan retail untuk menjadi payroll base. Korporasi dan retail jadi target pertumbuhan sehat. Kami tumbuh 7-8% dan memberikan laba yang cukup, strategi untuk mengalihkan ke segmen yang sehat dan memberikan yield yang bagus kelihatannya cukup baik.

Pertumbuhan kredit 2020 kan sekitar 10-11% diturunkan dari sebelumnya. Untuk Bank Mandiri fokus ke kredit segmen apa?
2020 kami tumbuh bukan rendah tapi kami mencoba mendekati double digit 9-11%. Kami tetap ambil kesempatan di korporasi. Kami landing di infrastruktur dan kebutuhan infrastruktur yang jadi program pemerintah, dan hampir 30% portofolio kami di infrastruktur dan berjalan lancar.

Kami juga akan menggarap UMKM, kami akan punya strategi khusus menggarap potensi UMKM yang memang risiko tinggi sehingga butuh cost besar. Kami akan memakai proses digital untuk meminimalkan cost dan memitigasi risiko. Segmen yang belum banyak bank masuk adalah UMKM. Kami pun punya program khusus agar tumbuhnya sehat dan sustainable.

Berapa target kontribusi segmen UMKM dan kenapa mengincar segmen ini?
Kami tidak akan bermain segmen yang sama seperti yang ditargetkan oleh Bank BRI. Kami akan lebih banyak masuk UMKM di kota besar, cabang kami banyak di kota besar dan banyak belum tergarap dengan baik sehingga punya potensi dan kemampuan dengan situasi ekonomi saat ini. Saya yakin mereka punya prospek yang baik. Kami akan menggunakan sejalan dgn kemapuan kami mengembangkan digtal banking ini akan proses digital jadi costnya lebih murah.

UMKM targetnya berapa?
Karena kami baru, kami tidak mau memasang target besar-besar, mungkin sekitar 10% saja sudah baik. Yang penting dapat bisnis model tepat, sustain dan sehat. Untuk semester ini kami targetkan 10% sudah baik. Kami cukup hati-hati mudah-mudahan kalau ini memberikan yield yang bagus, kami akan lebih agresif lagi.

Perbankan mulai masuk digital bank, apakah Bank Mandiri akan mengembangkan bisnis digital secara terpisah atau jadi satu unit usaha?
Saat ini jadi suatu yang serius di bank mandiri tentang proses menjadi digital. Digital kan ada dua hal, mendigitalkan proses supaya simpel dan memberikan transaksi sifatnya digital untuk konsumen. Paralel ini kami lakukan di bank mandiri, belum terpikirkan untuk bikin unit sendiri karena program ini tidak akan jangka pendek.

Ini menyangkut infrastruktur, dan sumber daya manusianya, selain itu akan berimplikasi banyak pada bisnis yang akan datang. Proses kartu kredit misalnya banyak channel akan berubah. Tetapi di bank kita atau unit sendiri kami akan lihat dan bahas, kami ada tim khusus untuk membahas digital ini. apakah kami akan bangun sistem di dalam sendiri atau terpisah. kami belum ada keputusan.

Fintech mulai muncul dan menggarap pasar yang belum tergarap oleh bank. Bagaimana arah Bank Mandiri dengan fintech?
Kalau ini sudah. Melalui Mandiri Capital Indonesia kami investasi di fintech. Kami kolaborasi dengan fintech besar baik P2P ataupun payment, kami terbuka kerja sama dan kerjasama dengan fintech besar.

Paling besar kami bangun platform payment LinkAja, ini berbeda dengan fintech lain, dan kami melakukan test case dengan BUMN, misalnya untuk di kereta, SPBU dan arahnya ke mikro. Bisa ada bentuk tersendiri dalam Bansos, atau dalam memberikan mikro lending. Kami akan masuk ke daerah dimana yang menjadi basis menjadi pengembangan micro lending.

Bagaimana target sepanjang 2020?
Pertama, pendapatan, sekarang ini hampir dipastikan kami yakin akan terjadi NIM yang tertekan. Kami juga punya strategi, kalau kita sustainable kita di fee base income, kekuatan kita di corporate banking menjadi salah satu engine meningkatkan fee base income untuk pengembangan bisnis nasabah corporate banking.

Ini menjadi salah satu peningkatan revenue selain dr net interest income. Ini bagian menjadi penjaga apabila ada tekanan interest margin, ini adalah satu bentuk strategi. Likuiditas akan jd isu di 2020, apabila ekonomi membaik, semua bank lending dan funding, pemerintah juga akan cari funding buat projectnya sehingga likuiditas jadi tight. Kami akan masuk pasar untuk issue bond baik dolar ataupun rupiah. Ini untuk menutupi gap DPK apabila tertekan dalam pertumbuhan.

Strategi 2019 semoga bisa berkelanjutan jadi kredit dan dpk bisa tumbuh balance. sehingga kita ga ada issue likuiditas. wholesales funding juga kami siapkan agar bisa mengambil dana masyarakat melalui capital market.

Bagaimana Pertumbuhan fee based income?
DPK targetnya match dengan pertumbuhan kredit, kalau kredit 10% maka dpk 10%. Ini supaya antisipasi kondisi likuiditas 2020. Kalau target fee based income kami tumbuh 20-30% karena kami yakin perolehan bisnis value chain membantu pertumbuhan di fee based income yang biasanya tidak kami garap serius menanganinya.

Ancaman perebutan dana murah masyarakat akan dihadapi perbankan, kondisi ini apakah DPK bank mandiri bisa aman?
Kalau menantang iya, karena perebutan dana masyarakat tinggi dari perkembangan belakangan antisipasi BI, sudah menuju cukup melonggarkan kebijakan di market. Jadi likuiditas terjaga baik. BI jauh-jauh sudah punya komitmen baik di dalam memberikan kebijakan untuk market.

Beberapa instrumen yang untuk ke pasar BI sudah lakukan antisipasi jauh-jauh jadi likuiditas bisa terjaga baik. Kami yakin pertumbuhan DPK kami tidak kesulitan walaupun kami masih waspada. Kelihatan itu sudah jadi agenda mereka supaya pertumbuhan kredit tidak terhambat likuiditas.

Apakah BI perlu tambahan kebijakan untuk industri perbankan? Apa kebutuhan industri perbankan?
Saya rasa sudah cukup baik sekarang. Saya tidak tahu kalau GWM dilonggarkan lagi ada ruang apa engga tapi kan itu masalah prudensial. kan repo lelang akan sering dilakukan kalau ada kontraksi penurunan likudiitas di pasar. Kami di buku IV sudah cukup baik dimanage otoritas moneter termasuk mengatur likuiditas di pasar. Saya optimis BI selalu menjaga likuiditas tak lebih dan tak kurang supaya ekspansi bisa baik.

Bagaimana IPO anak usaha?
2020 yang kami agendakan adalah BSM (Bank Syariah Mandiri) masuk market. Tapi kami lihat juga kondisi market, timing penting. Persiapan IPO oleh BSM sudah cukup baik, dan kinerjanya bagus, ini salah satu bank syariah terbesar di Indonesia, punya funding yang stabil, pertumbuhan bagus, bahkan pertumbuhannya bagus daripada induknya. Kredit dan dpknya ini jadi daya tarik buat investor. Persiapan kami jalani dan eksekusi kami lihat timingnya.

Kapan IPO BSM?
Semester 1 belum karena banyak persiapan kami tidak mau terlalu cepat untuk ini, kami lihat hasil 2019 secara final yang menentukan strategi masuk pasar.

Target perolehan dana dan untuk apa?
Untuk pengembangan usaha, kami butuh equity yang besar, BSM jauh untuk ke buku iv, maka salah satunya strategi IPO jadi bisa cepat-cepat ke buku IV. Dananya dipakai buat pertumbuhan organik, apalagi market syariah cukup baik, masyarakat banyak nabung di syariah. Kami mengarahkan BSM dalam proses menjadi bank digital bukan hanya konvensional.

Oleh Rahajeng Kusumo Hastuti

Link

Be ready, Southeast Asian startups will face a hard time raising money

These are challenging times for Wahyu Muliady, the founder and CEO of Ameera. He is finding it tough to raise new funds and approach new investors to invest in his seed-stage startup.

Muliady established Ameera, a company providing point-of-sale (POS) software for micro- and small-medium enterprises, in 2018. The software helps users integrate transactions, finance, inventory, and operational reports.

He received early funding from an angel investor the same year the company was founded. Muliady used most of the funds for technology development and the rest on the sales division. Around 950 clients from mom and pop stores and food and beverage merchants have to date came onboard.

However, the company is still burning cash to gain more customers or clients. It is attempting to catch up with other existing POS software providers such as Moka, which has around 20,000 clients. He believes Ameera can race to match  Moka, by having 30,000 clients next year. From his calculations, the company needs to raise at least USD 2 million in funding from new investors.

To Muliady, everything he needs for the sprint is almost ready. His startup has the technology and experience from the first two years of operating. The market for Ameera is out there and still growing. So there is only one—yet the most imperative—thing pending: the new financing to buttress up his ambition.

The clock is ticking. The existing funding is only enough to finance the company until the end of 2020. Hence, Muliady has knocked on door after door, approaching potential investors and venture capitalists since the end of 2018. However, no new investors have offered to invest in Ameera.

“I spoke with some investors, but they offered too low valuations. I approached 500 Startups, which was recommended by my friend, but we have never had any further discussions. I realized that getting investors is difficult, perhaps because my startup is not a first mover or originated from a fresh idea. Another reason is that I don’t have many connections with investors,” Muliady told KrASIA on the sidelines of a Block71 event in Jakarta.

Not all startups are alike

On the one hand, Muliady has to race with other startup founders who are getting millions of dollars in funding. On the other hand, many investors have changed their old mantra from concentrating on growth to focusing on businesses with healthy fundamentals instead.

Marshall Utoyo, co-founder and chief design officer at Fabelio, an online furniture store, has a different experience when raising new funds for his company. He is very optimistic about interest from investors.

“We actually see that the investor interest has shifted post-WeWork era. Investors now look for a business with good fundamentals when it comes to startups, such as the gross margin and the sustainability of the business. Our business is very healthy, and still can attract many investors,” Utoyo said.

Alexander Rusli, an active investor in 12 startup firms and also a chairman at Iflix Indonesia, said that investors are getting more selective and careful in allocating their money to startups nowadays. They prefer to save their cash if there are no good deals, especially when it comes to early stage investments.

“It is a cyclical period. When the global economy is tough, people prefer to conserve cash. However, this is not the first time. It happened a few years ago. At some point, we know the show must go on, digitization must happen,” Rusli told KrASIA in a recent interview.

WeWork’s failed initial public offering and the unprofitable businesses of ride-hailing giants Uber and Lfyt have disenchanted investors, causing them to not invest in ‘burning cash’ businesses; instead, they are turning their heads to businesses with good fundamentals.

“Investors will press for better valuations and more assurance [from startups], mainly they will be very careful with startups who don’t display a path to profitability. However, it will be a different story for unicorns and decacorns, the investors have more flexibility with them,” he added.

Joshua Agusta, a director at Mandiri Capital Indonesia agreed that it is difficult to raise money, especially for Southeast Asian early stage startups after the WeWork fiasco, because investors are increasingly paying more attention to revenue growth and paths to profitability, thanks to companies like Uber and Lyft that are still booking losses even after they went public.

Uber’s net loss widened to USD 1.16 billion in the quarter ended September 30, 2019, from USD 986 million a year earlier. Meanwhile, fellow ride-hailing firm Lyft Inc. posted a USD 463.5 million net loss for the third quarter of 2019, an increase from USD 249.2 million in the same period last year.

However, he foresees startups at B rounds level and above will still get funding, and is confident that there will be billions of dollars being funneled next year to incumbent and upcoming unicorns.

“Talking about dollar value invested in the region from Series B and above only, it will still increase because the amount of money in that space is super large. Even though the number of deals goes down, the dollar value of investments will still increase,” Agusta said during the Block71 event in Jakarta.

Agusta cited Indonesian fintech firm Kredivo, which recently secured USD 90 million in series C funding led by Mirae Asset-Naver Asia Growth Fund and Square Peg, as an example. Kredivo is a Series C startup with strong fundamentals and robust income, he said.

Jeffrey Paine, managing partner at Golden Gate Ventures added that the investors for WeWork, Uber, and Lyft, were either too early or miscalculated in investing in the startups, and have not reaped the benefits.

“The other reason is you think you’d make money. But then you don’t. That means you’re too early or there’s too much competition. And you forgot to calculate your competition and then you forgot you came in too early,” Paine said.

Better luck next year

Pane suggests that startups should better raise their fundings before the third quarter of next year, when the fundraising conundrum eventually worsen to a state that raising for early-stage startups would become even harder and take much longer.

China’s economic slowdown and the high valuations of Chinese startups have made consumer-focused companies less attractive to investors. The ripple effect is spreading across the whole region, just like how the WeWork fallout weighed on the market sentiment. That said, he still foresees that US investments will still come in but only for selective startups and mainly late stage ones.

He also believes that there will be more substantial funding next year compared to this year, but investors prefer not to invest in consumer-facing startups, like those e-commerce companies that are still losing money.

“Investors will not fund another e-commerce company, where everybody loses money. So then they don’t want to do that, they will do something new and something new takes money and time to turn profitable. That makes it riskier if they think that the next three years will be slow. Then it’s very hard for the consumer companies to raise money. Now they [investors] are a little more conservative,” he explained.

Meanwhile, media entertainment, such as media services and podcast providers, is a sector getting the attention of investors because it has a high business margin. Indonesia and Vietnam, for instance, have a growing middle-class population, so people will consume more entertainment and are willing to pay for it.

Huge interest but few quality startups

As the largest economy in Southeast Asia, Indonesia has high hopes to increase economic growth through boosting the digital economy. The government has launched some initiatives, including the revamped 1001 Digital Startup Movement, to grow startups across Indonesia.

Faye Alund, the coordinator of the program said many people are enthusiastic about this six-month coaching program. During the past three years, more than 78,000 people applied for the program; however, only a few actually are qualified.

“We offer the opportunity for everyone to join the program, but we are looking for quality startups and ideas that can attract investors,” Alund told KrASIA.

Before establishing Ameera, he had applied to this program for his first startup, but failed to get in. He tried a different approach to engage directly with investors for his second startup.

“I tried to register with some incubator programs, either from government or corporates, but I failed,” he said.

Alvin Evander, head of synergy and accelerator at MDI Ventures which has Indigo, an incubator program backed by telco operator Telkom Indonesia, revealed that around 300 startups on average register to enter the incubator for each batch. However, only 10 to 15 startups typically pass the selection process.

“There is much interest from startups to join our incubator, but only a few startups are of good quality and have passed Telkom’s evaluation,” Evander said.

Muliady from Ameera is not one to give up, however. He believes that his startup can secure 5,000 merchants as customers by 2020, which can turn around his business, and attract the right investors.

By Cindy Silviana

Link.