Mandiri Capital Buka Peluang Modali Fintech Syariah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perusahaan modal ventura, Mandiri Capital Indonesia (MCI) membuka peluang untuk mendanai fintech-fintech syariah yang potensial. Meski CEO Mandiri Capital Indonesia, Eddi Danusaputro menyampaikan mereka tidak spesifik mengklasifikasikan fintech syariah maupun non-syariah.

“Kalau ketemu yang cocok, kami akan jajaki, mungkin belum ketemu saja (fintech syariah),” katanya kepada Republika.co.id, Senin (20/1).

Mandiri Capital telah mendanai 13 perusahaan teknologi digital per Desember 2019. Diantaranya adalah Amartha, Investree, Moka, Privyid, LinkAja, Halofina, Yokka!, cashlez, Mekari, PTEN, DAM.

Beberapa fintech diantaranya punya produk syariah, yakni Investree dan Amartha yang punya opini dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) untuk skema pembiayaannya.

Secara umum, Eddi menyampaikan MCI mendanai fintech yang memiliki kolaborasi dengan Mandiri Group. Selain itu, fintech dengan rekam jejak transaksi bagus, valuasi masuk akal dan lainnya. MCI juga mencari berdasarkan sektor industri.

“Kami saat ini mencari beberapa startup baru, antara lain di sektor remitansi dan insurtech,” katanya.

Pada 2020, MCI akan menyalurkan permodalan untuk perusahaan digital sebesar Rp 1 triliun. Sejak berdiri pada 2016, MCI telah menyalurkan modal sekitar Rp 980 miliar pada 13 startup tersebut di atas.

Oleh : Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Nidia Zuraya

Link

Royke Tumilaar Beberkan Rencana Ekspansi Bank Mandiri di 2020

Jakarta, CNBC Indonesia– PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi satu-satunya bank asal Indonesia yang berkeinginan ekspansi keluar negeri. Bank ini mengincar peluang ke sejumlah negara ASEAN serta Korea Selatan.

Bagaimana rencana ekspansi tersebut? Simak wawancara eksklusif CNBC Indonesia bersama dengan Direktur Utama Bank Mandiri Royke Tumilaar.

Bagaimana dengan update ekspansi Bank Mandiri?
Kami terus dan tidak berhenti mempelajari melakukan pertumbuhan. Bukan cuma Filipina, kami juga kan melihat akan memperluas di beberapa negara yang lainnya.

Kami mencari bentuk bisnis paling pas supaya bisa memberikan nilai tambah pada bank mandiri, bisa akuisisi bank, multifinance, ataupun JV. Kami terbuka segala model dan opportunity di regional, mungkin di Korea atau negara lain yang berpotensi untuk peningkatan sinergi.

Kenapa memilih pasar mancanegara, sementara di Indonesia sedang ramai mengakuisisi bank kecil dan membuat bank digital?
Dari dua hal itu kami bukan berarti cuma lihat regional kami lihat ke dalam juga. Ada target bank perusahaan yang jadi pertimbangan. Di Indonesia semua bank masuk ke sini segmen digital, semua bank lihat prospek yang baik di segmen digital. Kami kan sangat besar eksposure di korporasi. dan perusahaan yang menuju ekspansi global kami bantu gimana bisnisnya ini tetap dengan kita, sekaligus mengembangkan bisnis di negara yang ada potensinya.

Rencana ekspansi bisnis ini mengarah cashflow positif dalam berapa tahun ke depan?
Sedapat mungkin berpikir tidak sepanjang 10 tahun, mungkin dalam 5 tahun seharusnya sudah bisa menghasilkan. Kami tidak mau terlalu banyak capital yang dikeluarkan, karena opportunity dalam negeri kan ada juga. Besaran jangka waktu target bisnis. Kami memang serius memperdalam semua kemungkinan, bisa jadi kami akan coba dengan JV, artinya kan bukan berarti harus kuasai semua tetapi lihat kemampuan kami juga.

Sejauh ini sudah berapa mitra yang sudah negosiasi? Negara mana yang paling kuat untuk ekspansi luar negeri?
Yang jadi target kami di regional Asean plus Korea, ini target untuk ekspansi kita. Pembicaraan sejauh ini masih dalam kajian internal. Kami belum mau kontak dengan siapapun sebelum yakin bisa memberikan nilai tambah pada Bank Mandiri.

Bagaimana dengan review kinerja Bank Mandiri?
Dengan situasi ekonomi agak melambat kami juga melakukan ekspansi di segmen aman seperti di korporasi dan retail untuk menjadi payroll base. Korporasi dan retail jadi target pertumbuhan sehat. Kami tumbuh 7-8% dan memberikan laba yang cukup, strategi untuk mengalihkan ke segmen yang sehat dan memberikan yield yang bagus kelihatannya cukup baik.

Pertumbuhan kredit 2020 kan sekitar 10-11% diturunkan dari sebelumnya. Untuk Bank Mandiri fokus ke kredit segmen apa?
2020 kami tumbuh bukan rendah tapi kami mencoba mendekati double digit 9-11%. Kami tetap ambil kesempatan di korporasi. Kami landing di infrastruktur dan kebutuhan infrastruktur yang jadi program pemerintah, dan hampir 30% portofolio kami di infrastruktur dan berjalan lancar.

Kami juga akan menggarap UMKM, kami akan punya strategi khusus menggarap potensi UMKM yang memang risiko tinggi sehingga butuh cost besar. Kami akan memakai proses digital untuk meminimalkan cost dan memitigasi risiko. Segmen yang belum banyak bank masuk adalah UMKM. Kami pun punya program khusus agar tumbuhnya sehat dan sustainable.

Berapa target kontribusi segmen UMKM dan kenapa mengincar segmen ini?
Kami tidak akan bermain segmen yang sama seperti yang ditargetkan oleh Bank BRI. Kami akan lebih banyak masuk UMKM di kota besar, cabang kami banyak di kota besar dan banyak belum tergarap dengan baik sehingga punya potensi dan kemampuan dengan situasi ekonomi saat ini. Saya yakin mereka punya prospek yang baik. Kami akan menggunakan sejalan dgn kemapuan kami mengembangkan digtal banking ini akan proses digital jadi costnya lebih murah.

UMKM targetnya berapa?
Karena kami baru, kami tidak mau memasang target besar-besar, mungkin sekitar 10% saja sudah baik. Yang penting dapat bisnis model tepat, sustain dan sehat. Untuk semester ini kami targetkan 10% sudah baik. Kami cukup hati-hati mudah-mudahan kalau ini memberikan yield yang bagus, kami akan lebih agresif lagi.

Perbankan mulai masuk digital bank, apakah Bank Mandiri akan mengembangkan bisnis digital secara terpisah atau jadi satu unit usaha?
Saat ini jadi suatu yang serius di bank mandiri tentang proses menjadi digital. Digital kan ada dua hal, mendigitalkan proses supaya simpel dan memberikan transaksi sifatnya digital untuk konsumen. Paralel ini kami lakukan di bank mandiri, belum terpikirkan untuk bikin unit sendiri karena program ini tidak akan jangka pendek.

Ini menyangkut infrastruktur, dan sumber daya manusianya, selain itu akan berimplikasi banyak pada bisnis yang akan datang. Proses kartu kredit misalnya banyak channel akan berubah. Tetapi di bank kita atau unit sendiri kami akan lihat dan bahas, kami ada tim khusus untuk membahas digital ini. apakah kami akan bangun sistem di dalam sendiri atau terpisah. kami belum ada keputusan.

Fintech mulai muncul dan menggarap pasar yang belum tergarap oleh bank. Bagaimana arah Bank Mandiri dengan fintech?
Kalau ini sudah. Melalui Mandiri Capital Indonesia kami investasi di fintech. Kami kolaborasi dengan fintech besar baik P2P ataupun payment, kami terbuka kerja sama dan kerjasama dengan fintech besar.

Paling besar kami bangun platform payment LinkAja, ini berbeda dengan fintech lain, dan kami melakukan test case dengan BUMN, misalnya untuk di kereta, SPBU dan arahnya ke mikro. Bisa ada bentuk tersendiri dalam Bansos, atau dalam memberikan mikro lending. Kami akan masuk ke daerah dimana yang menjadi basis menjadi pengembangan micro lending.

Bagaimana target sepanjang 2020?
Pertama, pendapatan, sekarang ini hampir dipastikan kami yakin akan terjadi NIM yang tertekan. Kami juga punya strategi, kalau kita sustainable kita di fee base income, kekuatan kita di corporate banking menjadi salah satu engine meningkatkan fee base income untuk pengembangan bisnis nasabah corporate banking.

Ini menjadi salah satu peningkatan revenue selain dr net interest income. Ini bagian menjadi penjaga apabila ada tekanan interest margin, ini adalah satu bentuk strategi. Likuiditas akan jd isu di 2020, apabila ekonomi membaik, semua bank lending dan funding, pemerintah juga akan cari funding buat projectnya sehingga likuiditas jadi tight. Kami akan masuk pasar untuk issue bond baik dolar ataupun rupiah. Ini untuk menutupi gap DPK apabila tertekan dalam pertumbuhan.

Strategi 2019 semoga bisa berkelanjutan jadi kredit dan dpk bisa tumbuh balance. sehingga kita ga ada issue likuiditas. wholesales funding juga kami siapkan agar bisa mengambil dana masyarakat melalui capital market.

Bagaimana Pertumbuhan fee based income?
DPK targetnya match dengan pertumbuhan kredit, kalau kredit 10% maka dpk 10%. Ini supaya antisipasi kondisi likuiditas 2020. Kalau target fee based income kami tumbuh 20-30% karena kami yakin perolehan bisnis value chain membantu pertumbuhan di fee based income yang biasanya tidak kami garap serius menanganinya.

Ancaman perebutan dana murah masyarakat akan dihadapi perbankan, kondisi ini apakah DPK bank mandiri bisa aman?
Kalau menantang iya, karena perebutan dana masyarakat tinggi dari perkembangan belakangan antisipasi BI, sudah menuju cukup melonggarkan kebijakan di market. Jadi likuiditas terjaga baik. BI jauh-jauh sudah punya komitmen baik di dalam memberikan kebijakan untuk market.

Beberapa instrumen yang untuk ke pasar BI sudah lakukan antisipasi jauh-jauh jadi likuiditas bisa terjaga baik. Kami yakin pertumbuhan DPK kami tidak kesulitan walaupun kami masih waspada. Kelihatan itu sudah jadi agenda mereka supaya pertumbuhan kredit tidak terhambat likuiditas.

Apakah BI perlu tambahan kebijakan untuk industri perbankan? Apa kebutuhan industri perbankan?
Saya rasa sudah cukup baik sekarang. Saya tidak tahu kalau GWM dilonggarkan lagi ada ruang apa engga tapi kan itu masalah prudensial. kan repo lelang akan sering dilakukan kalau ada kontraksi penurunan likudiitas di pasar. Kami di buku IV sudah cukup baik dimanage otoritas moneter termasuk mengatur likuiditas di pasar. Saya optimis BI selalu menjaga likuiditas tak lebih dan tak kurang supaya ekspansi bisa baik.

Bagaimana IPO anak usaha?
2020 yang kami agendakan adalah BSM (Bank Syariah Mandiri) masuk market. Tapi kami lihat juga kondisi market, timing penting. Persiapan IPO oleh BSM sudah cukup baik, dan kinerjanya bagus, ini salah satu bank syariah terbesar di Indonesia, punya funding yang stabil, pertumbuhan bagus, bahkan pertumbuhannya bagus daripada induknya. Kredit dan dpknya ini jadi daya tarik buat investor. Persiapan kami jalani dan eksekusi kami lihat timingnya.

Kapan IPO BSM?
Semester 1 belum karena banyak persiapan kami tidak mau terlalu cepat untuk ini, kami lihat hasil 2019 secara final yang menentukan strategi masuk pasar.

Target perolehan dana dan untuk apa?
Untuk pengembangan usaha, kami butuh equity yang besar, BSM jauh untuk ke buku iv, maka salah satunya strategi IPO jadi bisa cepat-cepat ke buku IV. Dananya dipakai buat pertumbuhan organik, apalagi market syariah cukup baik, masyarakat banyak nabung di syariah. Kami mengarahkan BSM dalam proses menjadi bank digital bukan hanya konvensional.

Oleh Rahajeng Kusumo Hastuti

Link

Be ready, Southeast Asian startups will face a hard time raising money

These are challenging times for Wahyu Muliady, the founder and CEO of Ameera. He is finding it tough to raise new funds and approach new investors to invest in his seed-stage startup.

Muliady established Ameera, a company providing point-of-sale (POS) software for micro- and small-medium enterprises, in 2018. The software helps users integrate transactions, finance, inventory, and operational reports.

He received early funding from an angel investor the same year the company was founded. Muliady used most of the funds for technology development and the rest on the sales division. Around 950 clients from mom and pop stores and food and beverage merchants have to date came onboard.

However, the company is still burning cash to gain more customers or clients. It is attempting to catch up with other existing POS software providers such as Moka, which has around 20,000 clients. He believes Ameera can race to match  Moka, by having 30,000 clients next year. From his calculations, the company needs to raise at least USD 2 million in funding from new investors.

To Muliady, everything he needs for the sprint is almost ready. His startup has the technology and experience from the first two years of operating. The market for Ameera is out there and still growing. So there is only one—yet the most imperative—thing pending: the new financing to buttress up his ambition.

The clock is ticking. The existing funding is only enough to finance the company until the end of 2020. Hence, Muliady has knocked on door after door, approaching potential investors and venture capitalists since the end of 2018. However, no new investors have offered to invest in Ameera.

“I spoke with some investors, but they offered too low valuations. I approached 500 Startups, which was recommended by my friend, but we have never had any further discussions. I realized that getting investors is difficult, perhaps because my startup is not a first mover or originated from a fresh idea. Another reason is that I don’t have many connections with investors,” Muliady told KrASIA on the sidelines of a Block71 event in Jakarta.

Not all startups are alike

On the one hand, Muliady has to race with other startup founders who are getting millions of dollars in funding. On the other hand, many investors have changed their old mantra from concentrating on growth to focusing on businesses with healthy fundamentals instead.

Marshall Utoyo, co-founder and chief design officer at Fabelio, an online furniture store, has a different experience when raising new funds for his company. He is very optimistic about interest from investors.

“We actually see that the investor interest has shifted post-WeWork era. Investors now look for a business with good fundamentals when it comes to startups, such as the gross margin and the sustainability of the business. Our business is very healthy, and still can attract many investors,” Utoyo said.

Alexander Rusli, an active investor in 12 startup firms and also a chairman at Iflix Indonesia, said that investors are getting more selective and careful in allocating their money to startups nowadays. They prefer to save their cash if there are no good deals, especially when it comes to early stage investments.

“It is a cyclical period. When the global economy is tough, people prefer to conserve cash. However, this is not the first time. It happened a few years ago. At some point, we know the show must go on, digitization must happen,” Rusli told KrASIA in a recent interview.

WeWork’s failed initial public offering and the unprofitable businesses of ride-hailing giants Uber and Lfyt have disenchanted investors, causing them to not invest in ‘burning cash’ businesses; instead, they are turning their heads to businesses with good fundamentals.

“Investors will press for better valuations and more assurance [from startups], mainly they will be very careful with startups who don’t display a path to profitability. However, it will be a different story for unicorns and decacorns, the investors have more flexibility with them,” he added.

Joshua Agusta, a director at Mandiri Capital Indonesia agreed that it is difficult to raise money, especially for Southeast Asian early stage startups after the WeWork fiasco, because investors are increasingly paying more attention to revenue growth and paths to profitability, thanks to companies like Uber and Lyft that are still booking losses even after they went public.

Uber’s net loss widened to USD 1.16 billion in the quarter ended September 30, 2019, from USD 986 million a year earlier. Meanwhile, fellow ride-hailing firm Lyft Inc. posted a USD 463.5 million net loss for the third quarter of 2019, an increase from USD 249.2 million in the same period last year.

However, he foresees startups at B rounds level and above will still get funding, and is confident that there will be billions of dollars being funneled next year to incumbent and upcoming unicorns.

“Talking about dollar value invested in the region from Series B and above only, it will still increase because the amount of money in that space is super large. Even though the number of deals goes down, the dollar value of investments will still increase,” Agusta said during the Block71 event in Jakarta.

Agusta cited Indonesian fintech firm Kredivo, which recently secured USD 90 million in series C funding led by Mirae Asset-Naver Asia Growth Fund and Square Peg, as an example. Kredivo is a Series C startup with strong fundamentals and robust income, he said.

Jeffrey Paine, managing partner at Golden Gate Ventures added that the investors for WeWork, Uber, and Lyft, were either too early or miscalculated in investing in the startups, and have not reaped the benefits.

“The other reason is you think you’d make money. But then you don’t. That means you’re too early or there’s too much competition. And you forgot to calculate your competition and then you forgot you came in too early,” Paine said.

Better luck next year

Pane suggests that startups should better raise their fundings before the third quarter of next year, when the fundraising conundrum eventually worsen to a state that raising for early-stage startups would become even harder and take much longer.

China’s economic slowdown and the high valuations of Chinese startups have made consumer-focused companies less attractive to investors. The ripple effect is spreading across the whole region, just like how the WeWork fallout weighed on the market sentiment. That said, he still foresees that US investments will still come in but only for selective startups and mainly late stage ones.

He also believes that there will be more substantial funding next year compared to this year, but investors prefer not to invest in consumer-facing startups, like those e-commerce companies that are still losing money.

“Investors will not fund another e-commerce company, where everybody loses money. So then they don’t want to do that, they will do something new and something new takes money and time to turn profitable. That makes it riskier if they think that the next three years will be slow. Then it’s very hard for the consumer companies to raise money. Now they [investors] are a little more conservative,” he explained.

Meanwhile, media entertainment, such as media services and podcast providers, is a sector getting the attention of investors because it has a high business margin. Indonesia and Vietnam, for instance, have a growing middle-class population, so people will consume more entertainment and are willing to pay for it.

Huge interest but few quality startups

As the largest economy in Southeast Asia, Indonesia has high hopes to increase economic growth through boosting the digital economy. The government has launched some initiatives, including the revamped 1001 Digital Startup Movement, to grow startups across Indonesia.

Faye Alund, the coordinator of the program said many people are enthusiastic about this six-month coaching program. During the past three years, more than 78,000 people applied for the program; however, only a few actually are qualified.

“We offer the opportunity for everyone to join the program, but we are looking for quality startups and ideas that can attract investors,” Alund told KrASIA.

Before establishing Ameera, he had applied to this program for his first startup, but failed to get in. He tried a different approach to engage directly with investors for his second startup.

“I tried to register with some incubator programs, either from government or corporates, but I failed,” he said.

Alvin Evander, head of synergy and accelerator at MDI Ventures which has Indigo, an incubator program backed by telco operator Telkom Indonesia, revealed that around 300 startups on average register to enter the incubator for each batch. However, only 10 to 15 startups typically pass the selection process.

“There is much interest from startups to join our incubator, but only a few startups are of good quality and have passed Telkom’s evaluation,” Evander said.

Muliady from Ameera is not one to give up, however. He believes that his startup can secure 5,000 merchants as customers by 2020, which can turn around his business, and attract the right investors.

By Cindy Silviana

Link.

Indonesia Innovation Forum 2019, Ajang mencari Start-up

Indonesia Innovation Forum 2019 menjadi arena penting bagi Mandiri Group melalui anak perusahaannya, Mandiri Capital Indonesia mencari start-up yang dapat diajak berkolaborasi membangun inovasi layanan terbaik untuk masyarakat Indonesia.

Kolaborasi digital adalah keniscayaan agar pelayanan finansial kian mudah diakses hingga pelosok. Terdapat 48 juta dari 60 juta Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang belum terjangkau bank di negeri ini. Dampaknya, pertumbuhan fintech menjamur seiring pesatnya pengguna ponsel pintar.

“Mandiri Group melalui Mandiri Capital Indonesia (MCI) telah meninvestasikan 980 miliar rupiah untuk 13 start-up fintech. Selain modal, kami juga memfasilitasi kolaborasi start-up dengan Mandiri Group untuk mengembangkan potensi bisnis melalui inovasi layanan dan produk-produk terbaik bagi nasabah,” ujar Royke saat membuka IIF 2019 di Jakarta, 11 Desember.

Senada, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusbandio, menyadari pentingnya kolaborasi bersama start-up. Namun, pembangunan ekosistem digital harus bermuara pada kepentingan bangsa.

Itulah sebabnya, IIF yang diinisiasi  Mandiri Group dan Kemenparekraf/Baparekraf (melalui Go Startup Indonesia) selama dua tahun terakhir memilih 10 start-up terbaik karya anak bangsa.

Terdapat juga Mandiri Product Factory, tempat pertemuan bisnis unit dar Bank Mandiri menuangkan masalah yang dihadapi kepada start-up. Walau Direktur Utama MCI, Eddi Danusaputro, mengatakan momen ini bukan target mencari start-up untuk diinvestasi, tak menutup kemungkinan terjalin kerja sama ke depan. “Tujuannya hanya mempertemukan start-up dengan bisnis unit di Bank Mandiri, ngobrol dan cari kolaborasi. Kalau cocok, barulah MCI bisa masuk,” ujarnya.

Jenis start-up yang diincar MCI pada 2020 terkait perencanaan finansial, remitansi, dan asuransi. “Untuk asuransi sudah ketemu Insurtech yang membantu Mandiri di sisi produk dan processing. Sedangkan remmitance kami cari misalnya bisa membantu TKA atau TKW memudahkan transfer uang ke keluarga di sini,” kata Eddi.

IIF 2019 untuk Tumbuh Kembang Ekosistem Startup Tanah Air

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif melalui Direktorat Akses Non Perbankan dan Deputi Akses Permodalan bekerja sama dengan Mandiri Group, dan Mandiri Capital Indonesia (MCI) menggelar Indonesia Innovation Forum (IIF) 2019. Gelaran yang telah menginjak usia kedua tahun itu bertujuan mengembangkan ekosistem startup di tanah air.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio menyampaikan IIF diinisiasi oleh Go Startup Indonesia (GSI). Sekitar 5.000 investor kunci hadir untuk mencari perusahaan yang sedang tumbuh. Selain itu, ada ratusan pelaku startup tanah air yang siap untuk membantu pengembangan teknologi digital Indonesia.

“Kita percaya bahwa peran ekonomi kreatif akan semakin besar kontribusinya untuk perekonomian nasional, dan salah satu fokusnya adalah digital,” kata Wishnutama saat pembukaan IIF di Ballroom Ritz Carlton Pasific Place, Jakarta, Rabu (11/12).

Digital Indonesia tumbuh pesat karena mulai menjamurnya perusahaan-perusahaan rintisan karya anak bangsa. Wishutama mengatakan pemerintah sadar sepenuhnya bahwa mereka adalah potensi besar yang bisa menawarkan jawaban atas permasalahan bangsa.

Maka dari itu, untuk memaksimalkan perannya, diperlukan kolaborasi dan sinergi antar pemangku kepentingan termasuk pemerintah. Startup Indonesia, kata Wishnutama, harus menjadi jawaban atas permasalahan di Indonesia, bukan startup dari negara lain.

“Karena sebenarnya startup itu lebih dari sekedar teknologi, ini tentang people, bagaimana kita menyediakan solusi atas kebutuhan kita,” katanya.

Sehingga Go Startup Indonesia hadir dalam rangka upaya pengembangan ekosistem startup. IIF 2019 berisikan berbagai agenda, seperti talks, pitching session, speed dating & coaching, mandiri product factorydemo valley dan awarding.

Pada gelaran IIF tahun ini dihadiri oleh lebih dari 5.000 pengunjung yang meramaikan acara. Wishnutama menambahkan target pertumbuhan sektor ekonomi kreatif pada tahun 2019 adalah sebesar Rp 1,211 triliun dan akan terus meningkat ke depannya.

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Friska Yolanda

Link

Mandiri Group berburu start up di Indonesia Innovation Forum 2019

Reporter: Maizal Walfajri | Editor: Tendi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk lewat anak perusahaan yang bergerak pada biang modal ventura yakni Mandiri Capital Indonesia terus mencari start up pontensial. Terbaru, Mandiri bersama Kementerian Pariwisata dan Kreatif (Kemenparekraf) akan menggelar Indonesia Innovation Forum (IIF) 2019.

Gelaran ini akan berlangsung pada Rabu, 11 Desember 2019 di Hotel Ritz Carlton. Acara yang bertajuk To The Next Level & Beyond itu, Bank Mandiri bersama Kemenparekraf akan mempertemukan pemangku kepentingan dengan pelaku industri kreatif termasuk start up dalam memperkuat pengembangan ide dan inovasi untuk kemajuan industri kreatif Indonesia.

Direktur akses permodalan non perbankan Kemenparekraf Syaifullah mengatakan, IIF akan diikuti ribuan start-up dan pelaku industri kreatif serta menghadirkan berbagai pembicara dari dalam dan luar negeri.

“Melalui agenda ini, kami ingin menguatkan dan mengembangkan industri kreatif Indonesia sehingga nantinya dapat berkompetisi di ranah global,” kata Syaifullah di Jakarta pada Jumat (6/12).

Vice President in Transformation Office Directorate Bank Mandiri Dimas Ardianto mengatakan, Bank Mandiri memiliki perhatian dalam pengembangan start up maupun industri kreatif di Indonesia. Selama ini, Bank Mandiri melalui Mandiri Capital Indonesia telah memberikan dukungan pendanaan kepada berbagai start up di bidang fintech.

“Pada ajang IIF 2019, kami bersama Kemenparekraft akan mempertemukan para start up nasional dengan pemangku kepentingan dan angel investor yang nantinya dapat mengembangkan bisnis mereka,” ujarnya.

Manager Mandiri Capital Indonesia Rabbi Amrita Givatama bilang sejauh ini telah menyuntikkan pendanaan kepada 13 start up di Indonesia. Terakhir start up yang mendapatkan pendanaan adalah Halofina. Tujuannya untuk mendorong Digital Financial Advisory & Wealth Management bagi Bank Mandiri.

Pada IIF 2019, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri BUMN Erick Tohir, Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate, menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim dan Menteri Riset, Teknologi dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro akan memberikan berbagai update kebijakan pemerintah dalam pengembangan sektor ini.

“Kami berharap, IIF 2019 akan menjadi momentum yang sangat baik dalam upaya pengembangan sektor kreatif di Tanah Air agar start up dan pelaku industri kreatif Indonesia dapat mendunia,” ujar Dimas.

Syaifullah menyatakan IFF 2018 digelar guna mendorong para start up bisa melantai di pasar saham. Ia bilang program ini agar memberikan alternatif bagi start up untuk mencari pendanaan. Tahun lalu acara ini telah diikuti oleh 4.000 peserta, 1.200 start up dan 200 investor.

Link

Mandiri Capital Kucurkan Investasi Startup Senilai Rp 980 Miliar

PT Mandiri Capital Indonesia (MCI) telah mengucurkan dana investasi untuk pendanaan perusahaan rintisan (startup) senilai Rp 980 miliar.

Investment Manager MCI, Rabbi Amrita Givatama, mengatakan jumlah dana itu digelontorkan untuk 13 startup sejak akhir tahun 2016.
“Terakhir pendanaan startup di bidang same solution, payment, dan lending,” kata Rabbi di Plaza Mandiri, Jakarta, Jumat (6/12).
Rabbi mengatakan, Mandiri Capital akan terus menggencarkan investasi startup untuk periode tahun depan. Setidaknya, ada 3-4 startup yang rencananya akan dibiayai.
“Nanti di tahun depan kita siapkan juga dana ventura untuk menyiapkan dana lebih lagi ke startup-startup di Indonesia dan juga mungkin di asia region,” ujarnya.
Startup yang telah dibiayai masuk ke dalam ekosistem Mandiri Group. Sehingga, tak hanya mendapat pendanaan, namun juga pendampingan agar bisa mengembangkan bisnisnya.
Rabbi mengatakan, startup yang mendapatkan pendanaan dari Mandiri Capital tersebut juga akan didorong untuk mencatatkan saham di bursa efek (IPO).
“Belum ada yang IPO (dari ke-13 startup), tapi ada salah satu portfolio kita coba IPO. Ada satu yang sedang menuju proses IPO, targetnya belum ditentukan,” ujarnya.
Dalam menjaring startup potensial, Mandiri Group berkolaborasi dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggelar Indonesia Innovation Forum (IIF) pada 11 Desember 2019.
Pada perhelatan bertajuk “To the Next Level and Beyond”, Bank Mandiri bersama Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif akan mempertemukan pemangku kepentingan dengan pelaku industri kreatif dan startup.

23 Start-Up Unpad Gaet Investor di Oorange Business Matching 2019

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM — Sebanyak 23 perusahaan rintisan atau start-up yang berada di bawah bimbingan inkubator bisnis Kawasan Sains dan Teknologi Universitas Padjadjaran, Oorange, melakukan presentasi bisnis di hadapan para calon investor, perbankan, pemerintah, buyer, hingga calon mitra lainnya di gelaran Oorange Business Matching 2019, Kamis (5/12/2019). Acara ini merupakan kegiatan akhir dari program akselerasi Oorange-Mandiri Capital Indonesia (MCI) yang digelar sejak Agustus lalu.

Ketua Oorange Unpad, Diana Sari mengatakan, acara tahunan yang kali ini diselenggarakan di Hotel Aryaduta, Bandung tersebut secara umum bertujuan untuk menjadi sarana silaturahmi para pelaku bisnis dengan para mitra yang mampu mengembangkan bisnis tersebut. Sehingga, Oorange Business Matching diharapkan dapat menjembatani para start-up yang berpartisipasi dengan para mitra bisnis yang dibutuhkan.

“Acara ini diselenggarakan tiap akhir tahun, karena setiap tahun kita membina para tenant dengan buyer atau calon pendana,” ujarnya ketika ditemui selepas acara.

“Harapannya bisa memperkenalkannya para start-up Unpad di mitra-mitra Unpad sehingga mereka dapat memiliki mitra baru, syukur-syukur kalau ada yang invest,” jelasnya.

Produk dan jasa yang ditawarkan para start-up yang berpartisipasi siang itu terbilang cukup beragam. Mulai dari panganan sehat alternatif, aplikasi edukasi, aplikasi wisata, minuman sehat, e-commerce bidang otomotif, dan sebagainya. Namun, mayoritas didominasi oleh produk panganan dan minuman sehat.

“Karena kita basisnya memiliki fakultas pertanian dan peternakan, sehingga yang banyak berkembang produk seputar itu,” ungkap Diana.

Hingga saat ini, dirinya mengatakan, terdapat hingga 200-an start-up binaan yang sempat mengikuti berbagai pelatihan kewirausahaan di Oorange. Namun, hanya beberapa di antaranya yang mendapat bimbingan dan pengarahan penuh selama tiga tahun hingga dapat mandiri.

Start-up jenis kedua adalah mereka yang telah menjadi Pengusaha ataupun Calon Pengusaha Pemula Berbasis Teknologi (PPBT/CPPBT) dengan dana dari Kementrian Riset dan Teknologi. “Sasarannya adalah terfasilitasnya pengembangan start-uup berbasis riset dan teknologi, serta menigkatnya jumlah tenant yang berkembang di lingkungan eksternal maupun internal Unpad,” jelasnya. Hal ini mendapat dukungan penuh dari Rektor Universitas Padjdjaran, Rina Indiastuti. Dirinya mengatakan keunggulan dari 23 start-up yang berpartisipasi dalam business matching ini adalah basis riset yang jelas.

“23 start-up ini berbasis di kampus, sehingga artinya mereka berkreasi dan berinovasi dengan dasar pengetahuan yang sudah baik selama kuliah. Saya yakin mereka akan mampu mendapat mitra bisnis yang bisa membantu mereka tumbuh besar dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Rina mengatakan, Unpad saat ini terus berfokus untuk meningkatkan iklim kewirausahaan di lingkungan kehidupan mahasiswa. Salah satunya adalah melalui kehadiran inkubator bisnis tersebut.

“Mahasiswa dirangsang untuk terus berinovasi dan difasilitasi untuk ikut berbagai kegiatan. Sehingga ekosistem bisnisnya yang akan tumbuh,” jelasnya.

Penulis: Nur Khansa Ranawati

Editor : Dadi Haryadi

Link

Indonesia’s Mandiri Capital names Joshua Agusta its new director

Mandiri Capital Indonesia, the corporate VC arm of Bank Mandiri, has appointed Joshua Agusta as its director of venture fund investments to lead fundraising, LP management, structuring fund vehicles, and the investment operations of Mandiri Capital’s new fund. According to his LinkedIn post, Agusta officially started his new position on December 1st.

The venture fund is a new vehicle for Mandiri Capital to raise funds from multiple investors. “By far, Mandiri Capital has successfully managed up to USD 100 million from Bank Mandiri’s balance sheet, with decent return performance. The venture fund is Mandiri Capital’s growth plan in terms of increasing its fund size and expanding its investment horizon,” Agusta told KrASIA.

Agusta is a no stranger to the Indonesia VC community. Prior to his new role, he was a vice president of investments at MDI Ventures, the corporate venture capital arm of Indonesia’s largest telco company, Telkom Indonesia. Seven of MDI Ventures’ portfolio companies made exits during his stint at the firm. He was also involved in industry and market research where he co-led MDI Ventures’ two white paper publications, Agusta said.

Mandiri Capital was founded in 2015. The firm has invested in 13 startups including state-owned mobile wallet LinkAja, digital signature startup PrivyID, and peer-to-peer lender KoinWorks. More recently, Mandiri Capital poured investments into digital financial advisory and wealth management platform Halofina in a pre-series A funding round.

“Next year, our main plan is definitely to raise a new fund with a size as big or bigger than the initial fund which was around USD 75 million. We are targeting early to growth-stage companies not only in the fintech sector, but also other verticals with core angles of banking or financial products such as education, agritech, and so forth,” Agusta said.

By Khamila Mulia

Link.

Siapkan Rp 50 M, Mandiri Capital Indonesia Bidik Investasi ke Tiga Startup Indonesia Tahun Depan

Sebagai CVC kelolaan Bank Mandiri yang fokus berinvestasi ke startup fintech dan pendukungnya, Mandiri Capital Indonesia (MCI) mengklaim masih memiliki dana sekitar Rp50 miliar yang siap digelontorkan bagi startup Indonesia.

Ditemui saat pengumuman pendanaan ke Halofina, CEO MCI Eddi Danusaputro menyebutkan, startup yang menyasar fintech dan insurtech masih menjadi prioritas utama mereka. Tentu saja agar bisa diintegrasikan ke dalam ekosistem Bank Mandiri dan anak-anak perusahaannya.

Telah berinvestasi di 13 startup fintech

Secara keseluruhan, MCI telah melakukan penyertaan modal di 13 startup fintech, termasuk Amartha, PrivyID, Moka, dan Investree. Tahun 2020 mendatang MCI memiliki rencana untuk berinvestasi kepada 2 atau 3 startup lagi.

“Sejak awal kita memang tidak mau agresif untuk berinvestasi kepada banyak startup. Untuk itu kita sengaja memilih startup lokal terbaik yang tertarik untuk mengembangkan layanan fintech hingga insuretech dengan memfokuskan kepada inovasi produk dan processing,” kata Eddie.

Meskipun masih belum banyak pemain lokal yang bermain dalam sektor ini, MCI juga mulai melirik layanan remittance lokal yang bisa menyediakan layanan dan teknologi yang relevan. Menurut Eddie, potensi tersebut dinilai cukup besar, dilihat dari jumlah TKI dan TKW yang membutuhkan layanan tersebut.

“Besar kemungkinan potensi tersebut akan mulai kita fokuskan di MCI. Untuk itu kita masih mencari startup lokal yang memiliki potensi tersebut,” kata Eddie.|

Sementara layanan seperti Halofina yang menawarkan asisten digital investasi diharapkan bisa diimplementasikan ke dalam grup atau anak perusahaan.

“Dengan Halofina saja rencananya kami akan menyematkan teknologi tersebut ke dalam semua layanan yang tersedia di anak perusahaan Mandiri. Salah satunya adalah Mandiri Investment Management,” kata Eddie.

Oleh Yenny Yusra

Link.

Dorong Literasi dan Inklusi Keuangan di Kalangan Milenial, Mandiri Capital Pimpin Pendanaan Halofina

Jakarta, 29 November 2019 – Bank Mandiri melalui perusahaan anaknya, Mandiri Capital Indonesia terus mengembangkan industri teknologi finansial (fintech) untuk memperkuat literasi dan inklusi keuangan di kalangan milenial. Kali ini, Mandiri Capital Indonesia bersama Finch Capital menyepakati penyuntikan pendanaan pre-series A kepada Halofina, platfom fintech yang fokus pada Digital Financial Advisory & Wealth Management.

Pada industri venture capital, pendanaan tipe pre series A sendiri memiliki kisaran investasi sebesar US$1 juta hingga US$ 5 juta

CEO Mandiri Capital Indonesia Eddi Danusaputro mengungkapkan pihaknya selaku leadinvestor pada pendanaan ini sangat tertarik dengan ide Halofina dan berharap untuk dapat terlibat dalam mendorong perusahaan ini tumbuh ke depannya.

“Bagi kami, investasi melalui Halofina ini sangat strategis untuk memperkuat presenceMandiri Group di kalangan milenial serta di industri tekfin secara global. Investasi ini juga menegaskan keinginan Mandiri Group untuk merangkul industri tekfin dalam meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di Tanah Air,” ungkap Eddi.

Dia menjelaskan, pihaknya terus mencari usaha rintisan (startup) tekfin potensial yang mampu menghadirkan efisiensi dan kemudahan usaha dari aspek finansial. Dengan Halofina, saat ini Mandiri Capital Indonesia telah melakukan penyertaan modal di 13 tekfin, antara lain Amartha, PrivyID, Moka, dan Investree

“Tahun depan, kami berencana untuk berinvestasi lagi di 2 atau 3 startup lagi” tuturnya.

Finch Capital, VC yang berfokus pada fintech dengan catatan panjang dalam berinvestasi di Eropa dan Asia Tenggara, juga mengambil bagian dalam pendanaan Pre- series A Halofina. Finch Capital sangat optimis dengan potensi Wealth Management di generasi milenial dan percaya bahwa Halofina berada di jalur yang tepat.

Sementara itu, CEO dan Co-Founder Halofina Adjie Wicaksana mengatakan, suntikan modal ini akan digunakan untuk mengembangkan Halofina sehingga berpeluang meraih pendanaan tipe series A dalam waktu yang singkat, yakni pada pertengahan tahun depan.

Halofina sendiri merupakan aplikasi perencana keuangan digital yang dapat membantu pengguna dalam mengelola keuangan pribadi, mendapatkan rekomendasi strategi investasi, serta terhubung dengan berbagai produk investasi.

“Kami meyakini generasi milenial ini akan menjadi motor penggerak ekonomi dan potensi pasar wealth management di segmen ini sangat besar dalam beberapa tahun ke depan. Harapannya nanti Halofina juga dapat digunakan oleh Perbankan, Asuransi, dan Manajemen Investasi,” kata Adjie.

Halofina saat ini telah tercatat di Inovasi Keuangan Digital Otoritas Jasa Keuangan (OJK Sandbox) kategori Digital Financial Planner. Mulai meluncurkan integrasi produk reksa dana sejak maret 2019, hingga saat ini, Halofina telah memiliki lebih dari 15.000 pengguna terdaftar dan berhasil mengoleksi lebih dari 50.000 life plan (financial goals) penggunanya. Halofina optimis dari dukungan pendanaan ini, jumlah pengguna akan terus bertambah menjadi lebih dari 500.000 pengguna dalam 1 tahun ke depan.

“Sejak awal Halofina berdiri, misi kami adalah ikut serta mendorong literasi dan inklusi keuangan di Indonesia, melalui solusi berbasis teknologi. Kami sangat bersyukur dengan dukungan dari MCI dan Finch Capital. Pendanaan ini bagi kami adalah sebuah kepercayaan dan harapan untuk dapat bekerja dan berkontribusi lebih banyak bagi masyarakat” kata Eko Pratomo selaku Co-Founder & Chairman Halofina.

Eko menambahkan, pendanaan Pre-series A yang didapatkan oleh Halofina akan difokuskan untuk pengembangan produk, penguatan tim dan memperluas kerjasama strategis.

Dalam 3 tahun terakhir, literasi keuangan di Indonesia meningkat. Hal ini dapat dibuktikan dari kegiatan Survey Nasional Literasi Keuangan (SNLIK) yang ketiga pada 2019. Menurut hasil survei, indeks literasi keuangan mencapai 38,03 persen atau naik 8,33 persen dari posisi tahun 2016 yang mencapai 29,7 persen.Selain literasi keuangan, hasil survey OJK juga mencatat bahwa indeks inklusi keuangan menembus angka 76,19 persen, atau naik 8,39 persen dari sebelumnya 67,8 persen pada 2016.

Sejalan dengan itu, solusi yang ditawarkan Halofina diharapkan dapat terus mendukung misi OJK dan pemerintahan Joko Widodo dalam peningkatan literasi dan inklusi keuangan di Indonesia, khususnya di kalangan milenial.

Tiru SoftBank, Mandiri Capital Bakal Bikin Venture Fund

JAKARTA, CNBC Indonesia – Saingi SoftBank, Mandiri akan membuat venture capital ke depannya. Hal ini diungkapkan langsung oleh Director Mandiri Capital Indonesia Joshua Agusta.

Pesatnya perkembangan industri start up digital menjadi salah satu penyebab. Terkait dana yang akan diinvestasikan, Mandiri akan menggabung antara dananya dengan pihak lain.

“Mandiri bakal punya venture fund. Uang kan awalnya dari Bank Mandiri. Nanti the fund there are going to represent di mandiri capital itu bakal uang terparti. Jadi ga cuma uang mandiri doang. Ada uang mandiri dan uang orang lain juga,” katanya kepada CNBCIndonesia.com di Jakarta (26/11/2019).

Saat ini, venture fund tersebut sudah dalam proses pembuatan. Ditargetkan, tahun depan sudah mulai launch (perkenalan ke publik) serta memulai investasinya.

Mengenai jumlah uang yang akan dikucurkan, Joshua sudah membocorkan. Angka tersebut bisa saja lebih tinggi lagi jika pendanaan ditambah. “100 juta (US dollar) angkanya (atau 1,4 triliun). Saya belum berani ngomomg lebih dari itu, tapi sektor lebih di fintech gak jauh-jauh. Tapi kita mau gedein circlenya. Bahasa saya fintech plus sih,” ungkapnya.

Joshua menyebut fokusnya lebih ke fintech, beberapa sektor yang dinilai seksi saat ini diakuinya tidak mampu membuat tertarik. “Kita gak main di e-commerce. Kita main di industri financial technology kaya payment, R and D (Research and Development) solutions. model gitu,” paparnya.

Saat ini, Mandiri Capital sudah menanamkan di 13 portofolio. Salah satunya di dunia fintech yakni LinkAja.

Link.

Mandiri Capital CEO Calls E-Payments a ‘Cash-Burning Exercise’

The venture capital arm of PT Bank Mandiri thinks electronic payment platforms will only ever be profitable by serving as gateways to more lucrative services. Otherwise, they’re “just a cash-burning exercise,” said Eddi Danusaputro, chief executive officer of PT Mandiri Capital Indonesia.

The race for customers in Indonesia is so intensive that e-payment providers have been willing to offer steep enticement discounts, calculating that the immediate cash hit is worth it in order to secure a bigger market share, said the CEO in an interview. In Jakarta, services like Gojek’s GoPay and Grab Holdings Inc.-backed Ovo have been dealing out purchase discounts and cashback as high as 50% and sometimes even 90%, none of which is sustainable in the eyes of the Mandiri Capital CEO, which has itself invested in LinkAja, another competitor in this crowded field.

“Nobody makes money from e-wallets,” Danusaputro said. Seller fees are “coming down, gone are the days of 2% or 3%. The banks are making money from the funding side and savings or checking accounts of the merchants.” For them to survive, e-wallet services have to direct users to more profitable ventures, said the CEO, such as by cross-selling financial service products like mutual funds, stocks or insurance products.

Mandiri Capital said that LinkAja’s alternative e-payments approach is to pursue fees from various public-utility transactions such as toll roads, train tickets and health-care payments — all areas where the competition is less intense.

Formed four years ago, Mandiri Capital now manages $100 million of funds, invested mostly in 13 startups. The venture capital firm will set aside 90 billion rupiah ($6.4 million) next year for new investments and follow-up funding. It has recorded unrealized gains of nearly 300% since its inception.

— With assistance by Yoolim Lee

Link

Indonesia Innovation Forum 2019

Halo Indonesia!

Presented by Go Startup Indonesia, you and 5000 other Future Builders are cordially invited to our second event in Indonesia. A unique combination of a tech and creative event is landing in Jakarta, Asia’s key economic point.

We are not a conference. Not a tech-expo. It’s not a typical innovation conference. First of all, Indonesia Innovation Forum is a close-knit community commited to creating a better future for you. For all of us. Indonesia Innovation Forum is bringing you a unique and unforgettable experience of the most comprehensive, stylish and future-oriented Asian tech event right here, in Asia’s financial node – Jakarta.

Indonesia Innovation Forum 2019 spotlights the most ambitious startups from all over Indonesia, connecting them with leading investors, tech companies and industry tycoons, mentors, media, and most importantly, talents.

Furthermore, this event takes a deeper look into :

  • GeoPolitics – How business mindset and strategy must evolve to keep pace with a changing world.
  • Adopting, and adapting to the right technologies
  • Tech check-up : AI, AR, digital-twin technology – a long term perspective
  • Leadership and change : A CEO’s perspective
  • Debate : do anti-competitive practices spell the end of the tech startup era?

Cooperation is the key. Choose your role in Baparekraf & Mandiri – Indonesia Innovation Forum by GoStartup Indonesia.

HOW TO HACK Baparekraf & Mandiri – Indonesia Innovation Forum 2019 by GoStartup Indonesia

Apply for these opportunities that are exclusive for startups to make the most out of your event experience.

  • INNOVATION VALLEY – attract the attention of investors, media, customers, talent, and partners by presenting your startup in the Startup District – at the heart of the venue
  • MANDIRI PRODUCT FACTORY – collaborate with the most sought-after growth companies. If you’re
    interested in what kind of technologies the next generation of growth companies are coming up
    with, this is the place to be. You can reach out to interesting companies in person or through our
    Matchmaking tool.
  • SCALE STUDIOS – exchange learnings with fellow founders and get hands-on advice on topics
    such as recruiting, marketing, and fundraising from an impressive array of mentors.
  • GSI STARTUP CHAMPIONSHIP – participate in the pitching competition to receive invaluable feed-
    back, invitations to exclusive events with the most relevant people and, of course, stage time.
  • SPEED DATING by MANDIRI CAPITAL & SPEED COACHING by ENDAVOR INDONESIA – speed Dat-
    ing is where entrepreneurs meet investors and mentors in the “speed dates”. The event gives the
    opportunity to present a project face-to-face to many investors in a short period of time.
  • RAPID FIRE AMA – our most high-profile speakers take the hot seat as you lead the conversation.
    Ask the questions you’ve always wanted answered on our Q+A stage.

Register Here…

Mandiri Capital Debut Galang Investasi Eksternal, Targetkan Dana 1,4 Triliun Rupiah

Mandiri Capital Indonesia, ventura korporasi dari Bank Mandiri, mengungkapkan sedang dalam proses pengumpulan dana investasi perdana. Target dana yang akan dihimpun adalah $100 juta (lebih dari 1,4 triliun) dan bakal rampung pada tahun depan.

CEO MCI Eddi Danusaputro menerangkan, perubahan strategi ini [membuka kesempatan LP dari luar terlibat] dilakukan karena ada kebutuhan investasi yang besar di Indonesia, terutama untuk startup fintech. Hal ini tidak bisa sepenuhnya dipenuhi apabila sumber investor dari Bank Mandiri saja, butuh investor dari luar untuk menyokongnya.

“Tidak bisa terus-menerus mengandalkan dana dari Bank Mandiri saja. Sekarang masih fundraising, sudah keliling ke Jepang dan Korea Selatan, mereka berminat untuk masuk ke Indonesia,” terang Eddi saat ditemui di sela-sela NextICorn 2019, Jumat (15/11).

Dia juga meyakini reputasi Bank Mandiri sebagai bank pelat merah, tentunya akan memberikan nilai lebih buat para investor luar negeri untuk memercayakan dananya dikelola oleh MCI.

Menurutnya, tidak ada perbedaan mencolok antara mengelola dana dari kantong sendiri dengan eksternal. Selama ini Bank Mandiri selalu mengutamakan bagaimana startup yang didanai bisa memberikan sinergi buat grup dan imbal hasil yang diberikan.

Sedangkan, investor eksternal kurang mengedepankan sinergi, lebih kepada bagaimana MCI bisa memberikan imbal hasil yang baik dari dana yang diberikan.

Dalam fundraising ini, Eddi menargetkan setidaknya dapat menghimpun dana sebesar $100 juta. Bank Mandiri akan turut berpartisipasi dalam putaran tersebut, diperkirakan hanya 10% atau sekitar $10 juta (setara 140 miliar Rupiah).

Tahun depan diharapkan MCI sudah mulai berinvestasi lewat fund terbaru tersebut. Startup yang diincar 80% bergerak di fintech, sisanya bergerak di sektor pendukung fintech. Tahapan pendanaannya tetap di seri A.

“Tetap di hipotesa awal kita bermain di early stage, seri A. Tapi tidak menutup kemungkinan bila ada yang bagus masuk ke seri B.”

MCI telah beroperasi sejak 2016 dan sepenuhnya menggantungkan sumber pendanaannya lewat suntikan dari Bank Mandiri tiap tahun. Total pendanaan yang disalurkan mencapai Rp980 miliar untuk 13 startup fintech.

Hampir sepenuhnya dilakukan pendanaan seri A dan co-invest dengan investor lain. Akan tetapi, ada satu pengecualian. MCI pernah ikut dalam penggalangan seri B untuk Investree pada 2018.

Menjelang akhir tahun ini, MCI akan mengumumkan satu investasi teranyar untuk startup yang bergerak di bidang wealth management. Eddi belum bersedia memberikan info terkait hal ini.

Pendanaan yang terakhir diumumkan adalah pendanaan pra seri A untuk Crowde sebesar $1 juta (sekitar 14 miliar Rupiah).

Pemilihan strategi serupa sebelumnya juga dilakukan oleh MDI Ventures untuk dana investasi ketiga. Target dananya juga sama, sebanyak $100 juta. Salah satu nama investor yang sudah terkuak adalah Kookmin Bank dari Korea Selatan.

MDI Ventures juga menjajaki investor lainnya dari Timur Tengah dan beberapa negara di Asia Tenggara, seperti Thailand dan Singapura.

oleh Marsya Nabila

Link Berita

Tahun depan, Mandiri Capital tetap mengincar investasi startup baru

KONTAN.CO.ID – BALI. Selama empat tahun berdiri, PT Mandiri Capital Indonesia sudah menggelontorkan dana sebesar Rp 980 miliar untuk 13 perusahaan perintis berbasis teknologi yang dikelolanya.

Ditemui dalam ajang Next Indonesian Unicorn (NextICorn) 2019, CEO Mandiri Capital, Eddi Danusaputro menjelaskan 13 perusahaan rintisan yang dikelolanya berasal dari sektor teknologi finansial.

“Pendanaannya rata-rata si series A. Ada pula yang naik kelas ke C. Start up yang kami kelola diantaranya ada Amartha, Investree, Koinworks, Cashless, PrivyID, dan pastinya LinkAja. Nama-namanya lumayan dikenal,” jelasnya saat ditemui di Bali, Jumat (15/11).

Eddi melanjutkan, setiap tahun pihaknya menyiapkan dua kantong funding, yang masing-masing diisi oleh follow on funding dan satu masuk dalam kategori funding tambahan ke existing portofolio. Total funding mencapai US$ 40 juta sampai US$ 50 juta

Tahun depan, Mandiri Capital berencana untuk menambah investasi ke sektor rintisan yang belum pernah dimasuki dengan modal sebesar US$ 3 juta sampai US$ 4 juta. Menurutnya, dana tersebut cukup untuk menambah 2 sampai 3 investasi baru.

“Sebenarnya tahun depan kami tidak ada target harus mendapat berapa investasi baru. Itu tergantung idealnya bagaimana. Kami juga akan melakukan co-investing atau investasi dengan perusahaan investasi lainnya di sektor yang baru nanti,” lanjut Eddi.

Pihaknya berkata, saat ini fokus membidik perusahaan rintisan yang bergerak di sektor teknologi finansial (tekfin), terutama yang melayani bagian teknologi asuransi hingga remmitance.

Ia juga menyasar perusahaan start up di level pendanaan A karena dinilai produknya sudah pasti diterima oleh pasar.

“Kami jarang melirik ke level seed, karena mungkin produknya sudah atau belum diluncurkan, tapi belum tentu diterima. Kalau series A, sudah ada traction diterima pengguna. Yang pasti, kami lihat start up yang bisa menawarkan solusi atau yang bisa mengambil market yang belum dijangkau,” jelasnya.

Selain menaruh investasi pada sektor pendanaan perusahaan rintisan yang baru, Mandiri Capital juga berencana mendirikan pendanaan sendiri dengan kolaborasi bersama perusahaan pendanaan lain.

Selama 4 tahun berdiri, menurut Eddi, pihaknya tidak ingin hanya mengelola dana dari induk. Ia ingin kelola dana dari investor lain. Untuk mewujudkannya, saat ini Eddi sudah roadshow ke Jepang, Korsel, dan China untuk menawarkan kolaborasi.

Ia sendiri menekankan adanya tambahan nilai valuasi dari kolaborasi tersebut.

“Kalau kolaborasi dengan pihak Mandiri atau yang berada di lokal, kami tekankan pada valuasi dan sinergi. Ini pula yang menjadi basis co-investing kami saat masuk berinvestasi di start up tertentu, hal ini berguna mengurangi resiko. Biasanya kami selalu investasi bersama East atau investor dari luar negeri,” pungkasnya.

Reporter: Amalia Fitri
Editor: Tendi

Link Berita

Kemkominfo Rilis PSrE untuk Perkuat Keamanan Transaksi Elektronik

Liputan6.com, Jakarta – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) meluncurkan Penyelenggara Sertifikat Elektronik (PSrE) Indonesia.

Melalui acara peluncuran ini, Kemkominfo mengumumkan enam mitra PSrE dengan dua di antaranya dari pemerintah yakni Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), serta Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).

Empat mitra lain PSrE berasal dari sektor swasta, yaitu Privy.id, Peruri, Digisign, dan Vida. Enam layanan yang dimiliki PSrE adalah Tanda Tangan Elektronil (TTE), Segel Elektronik (e-seal), Preservasi berupa TTE dan stempel elektronik, penanda waktu, pengiriman elektronik tercatat, dan otentikasi website.

Sertifikasi digital ini dinilai akan membuat transaksi elektronik, seperti pengiriman dokumen, menjadi lebih aman, dan terjamin keasliannya.

“Saat ini layanan pemerintah dan swasta menjadi leih efisien dengan penerapan layanan elektronik, tapi juga rawan dipalsukan. Oleh karena itu, dibutuhkan jaminan agar transaksi elektronik dapat dipercaya,” ungkap Menkominfo, Johnny G. Plate dalam sambutannya yang disampaikan oleh Dirjen Aplikasi Informatika Kemkominfo Samuel Abrijani Pangerapan, di acara peluncuran PSrE dan Promosi TTE, Jakarta, Rabu (13/11/2019).

Penggunaan TTE, misalnya, dinilai juga dapat menangkal kejahatan siber yang saat ini kian sering terjadi. Selain itu, sertifikasi digital juga diharapkan akan membantu pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.

“Tanda tangan elektronik untuk menjamin transaksi elektronik karena pengguna dapat terverifikasi, dan akurat, serta juga dapat mendorong ekonomi digital. Indonesia juga bisa hemat hingga ribuan ton kertas jika migrasi ke digital,” tuturnya.

Ditambahkan Semuel, dokumen dengan sertifikasi elektronik memiliki tingkat keamanan yang labih baik. Selain karena bisa diverifikasi kebenarannya, dokumen juga tidak mudah diubah.

Di era digital, kata Semuel, kepastian soal kebenaran di dalam semua dokumen sangat dibutuhkan.

“Ini merupakan metode untuk memastikan dokumen yang sah. Zaman digital ini, orang bisa menyalin atau mengedit dokumen dengan mudah, tapi dengan ini (sertifikat digital) tidak bisa diubah. Jika diubah, dokumennya bisa langsung rusak karena bisa dilihat langsung dari segelnya,” jelasnya.

Link berita : https://www.liputan6.com/tekno/read/4109924/kemkominfo-rilis-psre-untuk-perkuat-keamanan-transaksi-elektronik

Perkuat Wirausahawan Muda, Bank Mandiri Gelar “Mandiri Goes To Campus”

KOMPAS.com – Era Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan perkembangan teknologi digital, sumber daya manusia dituntut untuk lebih terbuka dengan teknologi dan wawasan baru. Menjawab tantangan itu, Bank Mandiri melalui Mandiri Capital Indonesia serta Universita Pancasila menggelar program edukasi ” Mandiri Goes to Campus”. Acara di Universitas Pancasila ini banyak membahas seputar dunia entepreneurship. Iwan Tri Imawan, Vice President RCHBDH Region V / Jakarta 3 mengatakan Bank Mandiri berkomitmen mengembangkan dunia pendidikan dengan bersinergi dengan industri perbankan. Menurutnya, Bank Mandiri memberikan masukan-masukan kepada mahasiswa terkait perkembangan internet dan fintech dalam program “Mandiri Goes to Campus”.

Dorong lahirnya entrepreneur “Kalau kepada mahasiswa, kami juga sharing misalnya ke depan ini kan kita gak akan melepaskan diri dari yang namanya teknologi. Dari sisi internet dan fintech,” kata Iwan kepada Kompas.com setelah acara Mandiri Goes To Campus di Universitas Pancasila, Jakarta, Rabu (6/11/2019).

Dorong Kreativitas Wirausaha Melalui Kompetisi Ia berharap dengan adanya program “Mandiri Goes to Campus”, mahasiswa setelah lulus bisa terpacu menjadi entepreneur. Bahkan, sebelum mahasiswa lulus juga bisa memulai usaha. Dini Isnarti Vice President Transaction Banking Wholesale Product Group Bank Mandiri, menambahkan program Mandiri Goes To Campus telah hadir sejak lima tahun yang lalu. Dalam program Mandiri Goes To Campus, Bank Mandiri memberdayakan grup-grup Bank Mandiri sebagai narasumber untuk berbagi pengetahuan. “Acara ini yang kedua setelah di Medan. Sampai akhir tahun akan ada 11 tempat (untuk Mandiri Goes To Campus),” tambah Dini kepada Kompas.com. Acara “Mandiri Goes To Campus” akan digelar di 12 region Bank Mandiri mulai dari Bali hingga Sumatera. Untuk pemilihan tema-tema sharing pengetahuan, lanjut Dini, dipilih atas diskusi dengan pihak kampus.

https://edukasi.kompas.com/read/2019/11/07/08435581/perkuat-wirausahawan-muda-bank-mandiri-gelar-mandiri-goes-to-campus.

What Corporate Venture Capitalists look for

Below are some of our highlights of the meetup.

1. Mandiri Capital Indonesia Introduction: Corporate Venture Capital (CVC)

2. Collaboration between startups and incumbents (large corporates) with emphasis on fintech

Speaker – Eddi Danusaputro

www.linkedin.com/in/eddi-danusaputro-a39a1

1. Steps to Close an Investment Deal with CVC

2. Types of Synergy between Startups and CVC

3. How to Navigate with Corporate Bureaucracy

Speaker – Marshall Pribadi

www.linkedin.com/in/marshallpribadi/

LIMITED SEAT! FIRST COME FIRST SERVE.

For more info:

Telegram Group Chat : t.me/corporatestartup

Instagram : instagram.com/thecorporatestartup

Facebook : www.facebook.com/groups/2282441645414790/
Or contact us through Whatsapp or Telegram:

Sanjay (+62 87823768615)

Chitta Amaryllis (+62 813-1133-2713)

Registration : http://bit.ly/csmeetup_06

Mandiri Edukasi 2019

Halo Generasi Millenials,

PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk mengadakan acara Mandiri Edukasi 2019 beserta PT. Mandiri Capital Indonesia mengadakan acara Mandiri Edukasi 2019.

Acara ini berupa Seminar & Talkshow mengenai cara Cerdas Berinvestasi & Tips menjadi Entrepreneurship Muda yang juga akan disampaikan menghadirkan wirausaha muda.

Pasti nya akan membangkitkan semangat generasi millenials untuk lebih Cerdas dalam mengatur keuangan kalian untuk berInvestasatau menjadi Entrepreneur.

Di acara ini kalian juga akan mendapatkan Goodie Bag, Doorprize senilai jutaan rupiah,Snack box & Lunch box.

Pendaftaran via online klik http://bit.ly/mandiriEDUKASI2019

Indonesia Fintech Forum 2019

From talks to exhibits and networking, more than 1000 top key players and leaders in financial technology will be assembling here.

About this Event

From talks to exhibits and networking, Indonesia Fintech Forum 2019 is a full-day experience that will bring together those leading the status quo and its upheaval in the spirit of fostering positive developments in financial technology through collaboration and dialogue.

Here are things you shouldn’t miss at Indonesia Fintech Forum 2019:

Conference – Talks

Top-notch key player and leaders will deliver insights about financial technology, and how it is being and can be used to transform organizations across sectors, including government, and other financial institution.

Some confirmed speakers include:

  • Pamitra Wineka (Tanihub)
  • Stanislaus Tandelilin (ModalRakyat)
  • Alvin Kumarga (Traveloka)
  • Reynold Wijaya (Modalku)

Business Matchmaking

We realize networking is a major drawcard for Indonesia Fintech Forum 2019. The organizers will be bringing a business matchmaking segment to creates opportunities for startups to pitch to some most prominent VC/investors.

If you’re startups who interested to open up business opportunities through this matchmaking session, please kindly register here. And if you’re fellow investors who want to meet hundreds of startups folks, please submit your interest here!

Since we have limited seating, do apply as soon as possible and wait for your confirmation e-mail.

Technology Showcase

We will also present top tech startup companies showcasing the latest developments in one of the world’s most fast-evolving industries. Attendees will have a chance to meet them to see how financial technology adoption can open opportunities in the traditional and tech worlds.

Pitch Competition

We will also present top tech startup companies showcasing the latest developments in one of the world’s most fast-evolving industries. Attendees will have a chance to meet them to see how financial technology adoption can open opportunities in the traditional and tech worlds. Prize pool of IDR 175 million.

Get a chance to win doorprize One (1) Motorcycle & two (2) Umroh package!

Register here: http://bit.ly/fintechforum2019.

(Source : KAFEGAMA)

Sociopreneur Inspiration UI Kembangkan Kewirausahaan

DEPOK–  Universitas Indonesia (UI), melalui Direktorat Pengelolaan dan Pengembangan Unit-Unit Usaha mengadakan acara bertema Sociopreneur Inspiration Universitas Indonesia: How Far Can You Go?

Acara yang digelar di Kampus UI, Depok, Rabu (5/12) ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan yang ditujukan untuk pengembangan kewirausahaan di lingkungan Universitas Indonesia.  Acara yang berupa sharing session dan talkshow ini menghadirkan beberapa narasumber di bidang sociopreneur.

Di awal acara diadakan juga penandatanganan Nota Kesepahaman Bersama antara Universitas Indonesia dengan berbagai pihak dari kalangan industri yang akan mendukung pengembangan kewirausahan di Universitas Indonesia. Rektor UI Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis, M.Met menandatangani Nota Kesepahaman Bersama antara UI dengan PT Bursa Efek Indonesia,  Kejora  Ventures,  PT Integritas Training Idea, PT Investasi Inovasi Indonesia dan GK-  Plug and Play.

Selain Nota Kesepahaman Bersama dalan acara ini dilakukan juga penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara UI dengan PT Mandiri Capital Indonesia dan antara UI dengan PT Suitmedia Kreasi Indonesia. Kerjasama yang yang akan dilakukan adalah kerjasama mengenai Program Pembinaan Kewirausahaan.

Sesi sharing session menghadirkan narasumber yang merupakan sociopreneur dan investor yang khusus memberikan pendanaan bagi sociopreneurSharing session ini diawali oleh Imam B Prasodjo yang merupakan founder dari Yayasan Nurani Dunia dan berbagi pengalaman dalam membangun kampung ilmu di daerah Purwakarta, dilanjutkan dengan sharing oleh Wilda Yanti mengenai usaha bank sampah yang dikelolanya. Sesi pertama ditutup dengan sharing oleh Vivi Laksana, Direktur Kinara Indonesia yang menyampaikan mengenai investasi berdampak sosial.

Acara dilanjutkan dengan sesi talkshow yang dipandu oleh moderator Anggriawan Sugianto COO Suitmedia dengan narasumber Andi Taufan Garuda, CEO Amartha; Rici Solihin, founder Paprici; Ferry Alif, CEO Infishta dan David Christian, co-founder Evoware. Dalam talkshow ini narasumber dipandu oleh moderator akan mendiskusikan mengenai apa itu sociopreneur dan tantangan dalam mengembangkan social enterpriseberdasarkan pengalaman masing-masing narasumber. Acara ditutup dengan sharing session terakhir yang disampaikan Alamanda S. Santoso founder Binar Academy yang berbagi mengenai pengelolaan sekolah programmer gratis.

Acara ini merupakan bentuk dukungan UI terhadap kewirausahaan terutama untuk  mendorong terciptanya start up di lingkungan UI yang dapat membantu menyelesaikan berbagai permasalahan masyarakat secara luas, dalam mengatasi masalah sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Kedepannya UI akan terus selalu berupaya untuk mengembangkan kewirausahaan dengan memberikan sarana pendampingan dan pembekalan untuk para start up dengan berkolaborasi dengan industri dan berbagai pihak terkait. Sehingga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas. (ral)

(Sumber: beritasatu.com)

GSI Scale Con 2018 Usung Tema Pembinaan Startup Tahap Lanjutan

Ekosistem startup belakangan ini terus berkembang seiring dengan tingginya minat masyarakat untuk menghadirkan solusi lewat inovasi yang mereka tawarkan. Untuk itu, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan Mandiri Capital Indonesia meluncurkan GoStartupIndonesia (GSI).

GSI menghadirkan konferensi GSI Scale Con yang merupakan rangkaian final pitching competition, talkshow dan mentoring  di Ballroom Hotel Shangri-La, Jakarta (3/12/2018). Konferensi yang baru diseleranggarakan pertama kalinya ini didatangi oleh lebih dari 2.000 peserta dari kalangan pegiat teknologi, startup, korporasi, investor, media, pengusaha, akademisi, dan komunitas.

“Platform ini bertujuan mensinergikan berbagai pihak yang terlibat dalam ekosistem startup dan konferensi tahunan ini merupakan ajang penting sekaligus bermanfaat, yang mempertemukan setiap pihak yang terlibat seperti pemerintah, ahli di bidang teknologi, penggiat startup hingga para investor, dan mendorong semakin banyak startup untuk IPO (Initial Public Offering),” ujar Deputi Akses Permodalan Bekraf, Fadjar Hutomo.

“GSI Scale Con merupakan salah satu kegiatan di bawah GostartupIndonesia dalam upaya membangun ekosistem melalui pemberdayaan Universitas, inkubator, akselerator, dan Coworking Space dalam menciptakan ekosistem yang kondusif untuk tumbuh kembang startup,” ujar Direktur Akses Non Perbankan Bekraf Syaifullah. Di GSI Scale Con, pemenang kompetisi Pitching dari Surabaya, Yogyakarta, Batam, Medan, Bali, Bandung, dan Jakarta dengan total sebanyak 15 startup finalis GSI akan mengikuti final pitching dan sudah mengikuti bootcamp selama 5 hari di Jakarta.

Selain panggung khas konferensi teknologi, pengunjung juga bakal menikmati banyak acara menarik di ajang ini. Contohnya saja GSI Alley, pameran startup yang dimeriahkan oleh lebih dari 16 startup inovatif para finalist dari kota-kota roadshow dari GSI Startup Championship yaitu Surabaya, Yogyakarta, Medan, Denpasar, Jakarta, Bandung & Batam.

Selanjutnya ada Scale Hours dan Studios, sesi yang memfasilitasi peserta konferensi untuk lebih dekat dengan para ahli berpengalaman di industri startup. Sesi diskusi pada Scale Studios bahkan dibatasi dalam kelompok kecil agar diskusi dan interaksi dapat lebih fokus. Lalu ada Speed Dating yang akan mempertemukan para startup dengan puluhan investor terkemuka dari berbagai negara.

Kemudian ada GSI Startup Championship Grand Finale sebagai sesi puncak konferensi, dimana dalam arena pitch battle menghadirkan startup terbaik untuk melakukan pitching di hadapan peserta dan menjawab pertanyaan dari dewan juri. Menariknya lagi, finalis berkesempatan mendapatkan paket pelatihan startup di Amerika Serikat dan Jerman, eksposur dari investor, media serta hadiah jutaan.

“Kami mendukung penuh event seperti GSI Scale Con yang selaras dengan tujuan Mandiri untuk terus berupaya mengoptimalkan potensi semangat kewirausahaan dan startup di Indonesia. Kami berharap kegiatan seperti Scale Con ini bisa membantu para startup mengatasi salah satu masalah terbesar mereka yakni akses kepada mentor dan bimbingan startup tahap lanjutan,” kata Hira Laksamana, Direktur Finance dari Mandiri Capital.

Editor : Eva Martha Rahayu

(Sumber: www.swa.co.id)

Mandiri Capital sudah salurkan pendanaan ke fintech Rp 400 miliar

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Mandiri Capital Indonesia (MCI) sudah menyalurkan pembiayaan ke perusahaan teknologi finansial atau fintech sampai September 2018 sebesar Rp 400 miliar.

Eddie Danusaputro, Direktur Utama Mandiri Capital mengatakan, penyaluran dana ke fintech ini sudah dilakukan kepada 10 perusahaan.

“Mungkin di akhir tahun nanti akan ada tambahan pembiayaan kepada satu sampai fintech lagi,” kata Eddie, Senin (12/11).

MCI telah membiayai banyak start-up, yaitu Privyid, Moka, Amartha, CaShlez, Yokker, Digital Artha Media, Investree dan Koinworks. Menurutnya, dengan berinvestasi di startup sebagi investasi jangka panjang dan bisa dinikmati hingga lima tahun ke depan.

“Imbal hasil hanya bisa terealisasi jika kami sudah jual saham dan belum tahu berapa lama. Bisa jadi sekitar 3 tahun-5 tahun,” kata dia.

Walaupun masih sebagi pemain baru di bisnis modal ventura ini, MCI menilai perusahaan modal ventura yang sehat secara bisnis, dilihat dari total dana kelolaan, kemudian penyertaan ekuitas, return dari investasi dan dampaknya kepada pembukaan lapangan pekerjaan baru.

(Sumber: kontan.co.id)